Aku Terpana
December 2nd, 2006 by roniwaejpAku terpana.
“Doozo, suwatte
kudasai” kata seorang laki-laki paroh baya kepadaku.
“Arigatoo
gozaimasu….. tsugi no eki ni orimasu kara….” jawabku cepat sambil membungkuk-mbukkukkan
badanku.
Ya… ternyata laki-laki
Jepang ini perduli dengan kanan kirinya. Mungkin dia tidak tega melihatku
sempoyongan di dalam chikatetsu yang sedang melaju sambil menggendong anakku
yang kecil, Kennes yang tengah tidur didekapanku. Atau karena aku orang asing?
Dia tetap berdiri
memberi kesempatan itu. Saya katakan lagi permohonan maaf “sumimasen”. Namun
dia tidak kembali duduk di tempatnya.
Aku sempat terpana
dengan tawaran tempat duduk itu. Tapi aku merasa tidak perlu mengorbankan
kesempatan dia untuk duduk hanya untuk aku yang 4 menit lagi turun di
Sakurayama-eki.
Aku masih teringat
betapa pongahnya pemuda Jepang yang membiarkan seorang ibu tua berdiri di
hadapannya sambil sempoyongan pada suatu hari, sementara dia sendiri duduk
dengan santainya. Yah banyak yang merasakan (terutama di kereta) bahwa orang
Jepang sangat dingin dan cuek dengan lingkungannya. Banyak cewek-cewek yang
dandan dengan cueknya di kereta, lipenan,
bingung ngatur idepe, ngilo (masih untung ndak membawa cermin besar), ngerol rambut, bahkan kalau pagi sarapan
di kereta. Untung belum pernah kulihat ada yang sikat gigi di dalam kereta he
he he. Looo tapi ada juga yang –mohon maaf– ngesun
pacare di dalam kereta….. di samping kanan-kiri penumpang yang penuh sesak. Jan…..
dasar tenan kok!.
Masih ada lagi,
pakaiane cowok-cewek Jepang semua seperti artis. Iku isih mending. Laa onok cewek
sing nggawe celana pendek-ndek, atau rok yang super mini-ni. Padahal suhu di
luar sekarang sekitar 8 derajat. Aku pernah ngomong karo ojobku ketika naik
kereta bareng “Jo! Nyang kene okeh wong podo shodaqoh yo”. “Endi?” ojobku
penasaran. “La iku cewek ayu-ayu podo ngawe rok mini lan suwal endheg mamerke daginge kuwi”. Ojobku ngakak. Wah yen
nok surobojo bola-bali disuiti uwong. Ora mung iku okeh sing podo komentar. Yo untung wae iki
nok Jepang, yang tentu saja ukuran moralnya beda dengan kita. Atau
jangan-jangan dengan gaya pakaian kita, justru kita yang dianggap
primitif menurut ukuran moral mereka he he he.
“Pak, hampir mau
turun ya” suara anakku sing gedhe, Fira.
“Iya Nduk! Sebentar
lagi turun” jawabku sak keneke.
Tapi memang repot
juga, aku pernah menawarkan tempat duduk kepada seorang ibu tua (kelihatan
sehat) tapi ditolaknya, dan aku merasa malu untuk kembali duduk, sementara dia
sendiri tetap berdiri. Bahkan orang-orang Jepang di kanan-kiriku tidak ada yang
berani duduk di tempat yang aku tinggalkan. Gengsi? “Mottainai na” pikirku.
Mungkin perasaan ini juga yang tengah terjadi dengan lelaki paruh baya yang
menawarkan tempat duduk itu. Aku menjadi merasa berdosa dengan dia “Gomen ne,….
Otoosan”. Secara tidak langsung dengan menolak tawarannya, aku telah “mempermalukan”
dia di tempat itu.
“Mamonaku
Sakurayama desu………..”
Aku terhentak
manakala beberapa detik lagi harus turun di Sakurayama-eki. Aku katakan lagi “arigatoo
gozaimasu” sebelum aku beranjak keluar kereta sambil tentu saja dengan memasang
muka paling manis menurutku, agar “permohonan maaf” dalam hatiku tersampaikan.
Nagoya, 25 Nopember 2006
