Aku Terpana

December 2nd, 2006 by roniwaejp

Aku terpana.

“Doozo, suwatte
kudasai” kata seorang laki-laki paroh baya kepadaku.

“Arigatoo
gozaimasu….. tsugi no eki ni orimasu kara….” jawabku cepat sambil membungkuk-mbukkukkan
badanku.

P1010720_2
Ya… ternyata laki-laki
Jepang ini perduli dengan kanan kirinya. Mungkin dia tidak tega melihatku
sempoyongan di dalam chikatetsu yang sedang melaju sambil menggendong anakku
yang kecil, Kennes yang tengah tidur didekapanku. Atau karena aku orang asing?

Dia tetap berdiri
memberi kesempatan itu. Saya katakan lagi permohonan maaf “sumimasen”. Namun
dia tidak kembali duduk di tempatnya.

Aku sempat terpana
dengan tawaran tempat duduk itu. Tapi aku merasa tidak perlu mengorbankan
kesempatan dia untuk duduk hanya untuk aku yang 4 menit lagi turun di
Sakurayama-eki.

Aku masih teringat
betapa pongahnya pemuda Jepang yang membiarkan seorang ibu tua berdiri di
hadapannya sambil sempoyongan pada suatu hari, sementara dia sendiri duduk
dengan santainya. Yah banyak yang merasakan (terutama di kereta) bahwa orang
Jepang sangat dingin dan cuek dengan lingkungannya. Banyak cewek-cewek yang
dandan dengan cueknya di kereta, lipenan,
bingung ngatur idepe, ngilo
(masih untung ndak membawa cermin besar), ngerol rambut, bahkan kalau pagi sarapan
di kereta. Untung belum pernah kulihat ada yang sikat gigi di dalam kereta he
he he. Looo tapi ada juga yang –mohon maaf– ngesun
pacare di dalam kereta….. di samping kanan-kiri penumpang yang penuh sesak. Jan…..
dasar tenan kok!.

Masih ada lagi,
pakaiane cowok-cewek Jepang semua seperti artis. Iku isih mending. Laa onok cewek
sing nggawe celana pendek-ndek, atau rok yang super mini-ni. Padahal suhu di
luar sekarang sekitar 8 derajat. Aku pernah ngomong karo ojobku ketika naik
kereta bareng “Jo! Nyang kene okeh wong podo shodaqoh yo”. “Endi?” ojobku
penasaran. “La iku cewek ayu-ayu podo ngawe rok mini lan suwal endheg mamerke daginge kuwi”. Ojobku ngakak. Wah yen
nok surobojo bola-bali disuiti uwong. Ora mung iku okeh sing podo komentar.
Yo untung wae iki
nok Jepang, yang tentu saja ukuran moralnya beda dengan kita. Atau
jangan-jangan dengan gaya pakaian kita, justru kita yang dianggap
primitif menurut ukuran moral mereka he he he.

“Pak, hampir mau
turun ya” suara anakku sing gedhe, Fira.

“Iya Nduk! Sebentar
lagi turun” jawabku sak keneke.

Tapi memang repot
juga, aku pernah menawarkan tempat duduk kepada seorang ibu tua (kelihatan
sehat) tapi ditolaknya, dan aku merasa malu untuk kembali duduk, sementara dia
sendiri tetap berdiri. Bahkan orang-orang Jepang di kanan-kiriku tidak ada yang
berani duduk di tempat yang aku tinggalkan. Gengsi? “Mottainai na” pikirku.
Mungkin perasaan ini juga yang tengah terjadi dengan lelaki paruh baya yang
menawarkan tempat duduk itu. Aku menjadi merasa berdosa dengan dia “Gomen ne,….
Otoosan”. Secara tidak langsung dengan menolak tawarannya, aku telah “mempermalukan”
dia di tempat itu.

“Mamonaku
Sakurayama desu………..”

Aku terhentak
manakala beberapa detik lagi harus turun di Sakurayama-eki. Aku katakan lagi “arigatoo
gozaimasu” sebelum aku beranjak keluar kereta sambil tentu saja dengan memasang
muka paling manis menurutku, agar “permohonan maaf” dalam hatiku tersampaikan.

Nagoya, 25 Nopember 2006

Jepang, baito, dan volentier

September 20th, 2006 by roniwaejp

"Ronisan, dozo…. omiyage desu", demikian kata Uchidasan begitu saya masuk kenkyushitsu.
"Are, doko kara kaette kita no?", tanyaku.
"Amerika kara ryoko ni kaette kita no", jawabnya.
Wah……enak sekali ya jadi orang Jepang. Dia hanyalah seorang cewek Jepang teman satu kenkyushitsu. "Menghidupi" kuliahnya mulai S1 hanya dengan kerja sambilan atau sering disebut dengan baito. Tetapi kelangsungan kehidupan sehari-hari dan kuliahnya saya nilai cukup. Artinya, dia hidup sama seperti mahasiswa lainnya, tidak ada yang lebih. Yang membuatku gedheg-gedheg adalah dia sudah belasan kali jalan-jalan ke luar negeri, sekali lagi "hanya" dengan baito.
Hal ini kontras sekali dengan kehidupan mahasiswa di tanah air. Saya tidak mengatakan "tidak ada", tetapi hanya sedikit mahasiswa di tanah air yang dapat menghidupi kuliahnya dengan baito. Walaupun bisa menghidupi kuliahnya dengan baito, toh dapat dikatakan "tidak ada" yang bisa menyisihkan hasil baitonya untuk jalan-jalan ke luar negeri.
Kasus di tanah air ini tidak terjadi sendirian, tapi juga terjadi di banyak negara lainnya. Di China kurang lebih kasusnya sama. Tapi Cina punya Hongkong untuk tempat berkiblat, dan hasilnya China sedikit demi sedikit mulai bangkit perekonomiannya. Tapi apakah kita punya kota untuk berkiblat?
Bagi pemuda Jepang, pengalaman ke luar negeri merupakan aset penting untuk menata idealismenya. Oleh karena itu banyak juga pemuda Jepang yang menjadi volentier ke luar negeri, di antaranya dengan mengajar bahasa Jepang. Melihat semangat teman-teman Jepang yang volentier di Surabaya, walaupun mereka "digaji" seadanya, tapi mereka kerja keras untuk pekerjaan yang diserahkan kepadanya.
Volentier…. kata ini terasa janggal terdengar di telinga ketika masih  berada di Surabaya. Tapi di negara sakura ini, kata ini seperti ada "berkah Pengerannya", banyak orang mengejarnya. Banyak orang mengerjakannya demi mengejar kata "terimakasih". Bukan hanya itu, konon surat keterangan pengalaman volentier dapat digunakan untuk lampiran melamar kerja. Berbeda dengan perasaan saya yang lebih melihatnya dari segi "uang". "Kalau tidak ada uangnya tidak mau berangkat mengerjakannya", begitulah kira-kira cara pandangku waktu itu.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa banyak orang Jepang mau menjadi volentier? Jawaban pertama mungkin sudah dikemukakan di atas. Namun apakah hanya untuk demi sepenggal kata terimakasih itu saja. Saya kira tidak! Lagi-lagi, keadaan perekonomian negara secara umum dapat menjelaskan hal ini. Saya kemudian berandai-andai jikalau dilahirkan sebagai seorang Jepang. Saya mestinya juga mengalami kehidupan sama dengan Uchidasan teman saya tadi. Dalam hal mencari kerjaan, kuatir iku mesti ono tapi tidak sekuatir jika saya menjadi seorang Indonesia. La kepriye, wong hanya dengan baito saja bisa jalan-jalan keluar negeri, apalagi jika kerja sungguhan. Kalaupun toh tidak dapat kerjaan tetap, kan bisa baito. Halah itu kan pikirane wong Indonesia he he he. Kalau asli orang Jepang mestine nuntut lebih dari itu.
Tapi ya… mungkin pemikiran seperti itu lah yang membuat banyak orang Jepang rela menjadi volentier. Kalau kita sih kayaknya masih berada pada level masyarakat yang disibukkan oleh hal mencari kerja (bukan mencari baito ya).  Kalaupun sudah bekerja, masih berada pada level untuk menghidupi keseharian. Kalaupun lebih sedikit, itu untuk membayar cicilan perumahan di RSSSSSS (rumah sangat sempit sekali sehingga sulit sekali……sleep). La kepriye to. Aku sih volentier ok-ok saja, tapi keluargaku mangan opo? Kowe opo gelem menehi mangan selama aku volentier?

Mbah Dalimin dan Ramadhan

September 13th, 2006 by roniwaejp

Taiko. Yaa itulah nama bedhug Jepang, sejenis bedhug yang ada di langgar dekat kampoengku. Ketika kami diajak menari tarian bon di kota Togo (Aichiken), aku ditarik-tarik anakku untuk mendekati bedhug itu. Dan ternyata anakku ingin memukulnya. Persis aku kecil yang ingin memukul bedhug itu selama bulan ramadhon sesudah sholat terawih berakhir.
P1010353Yah, suara bedhug itu memang untuk mengiringi sholawatan yang ditembangkan oleh peserta sholat terawih, khususnya dikampoengku. Tapi umumnya, yang sholawatan yang sudah tua-tua, yang kira-kira umurnya lebih dari 20 tahun dan kebanyakan 40 tahun ke atas.  Kita yang waktu itu di bawah dua belas tahun lebih tertarik untuk memukul bedhug. Kita memainkan seni bedhug bergantian, dan ketika gilirannya selalu bersaing ingin memainkannya mana yang lebih menarik dan tangguh (bisa bertahan lama). Dan, ketika sedang rame-ramenya mau tidak mau harus berhenti main bedhug manakala Mbah Dalimin sudah berteriak: "Wis leren Le!!….. sing sholawatan cangkeme wis mimiren".
Mbah Dalimin, seorang tukang kayu tua yang aktif sholat berjamaah khususnya sholat terawih di kampoengku itu sudah meninggal. Dia orang yang sederhana. Pekerjaannya nyathok kayu. Banyak tetangga yang minta tolong ke dia untuk nyathokne rumahnya. Demikian juga, ketika kandang ayamnya Mbahku ambruk, dia menawarkan diri untuk nyathokne. "Wis kene takcathoke ngangge pring ori wae" katanya. Dia tidak mau dibayar, cukup minta disediakan makan, kopi, dan mbako untuk nglinthing rokok.
Mbah Dalimin tidak bisa melafalkan "alhamdulillah" selalu dilafalkannya dengan "alkamdulillah". Pernah ketika dibetulkan cara pengucapannya oleh Kiai Atim, sebaliknya dia malah bertanya,
   "Wong sing mung iso ngomong alkamdulillah kuwi, opo ora iso mlebu surgo?" 
   "Yo ora ngono Mbah Min, tapi yen ngucape bener kan atine tambah mantep. Yen ora iso yo ora opo-opo. Mosok pengeran nglebokne sampeyan nyang neroko goro-goro ilate sampeyan sing mbundhel kuwi. Sing penting sampeyan tingkah lakune nglakoni tuntunane islam, insya Alloh mlebu surgo", jawab Kiai Atim.
Pertanyaan Mbah Dalimin ini mengiang kembali di benak saya ketika para pelayat tetangga kanan kiri mengantarkan disin Mbah Dalimin ke kuburan desa untuk dimakamkan. "Tiang niki sae nopo sae?" tanya Mbah Modin kepada para pelayat. Dan semua pelayat menjawab: "saeeeeeee!!!"
Semoga beliau masuk surga.

=kenangan ramadhan=

Stres lan Gendheng

September 8th, 2006 by roniwaejp

Opo bedane stres karo gendheng? Okeh sing podo nerjemahke yen kedadeyan loro iku beda. Ora… menurutku ora bedo akeh kok. Yen gendheng iku diarani stres berat, ora ono bedane karo wong stres. La wong stres iku wujud soko sing diarani gendheng ringan he he he. Gendheng lan stres iku onoking garis lurus sing iso mulah malih enggone. Ing kutub sijine diarani stres ringan, lan ing kutub sijine maneh diarani gendheng berat. Mulo iku ojo nggeguyu wong gendheng, ojo-ojo malah kowe dhewe sing lagi diarani wong gendheng ha ha ha. "Damput!" aku disentak Kang Tardjo ojobe Yu Murti.
Kanggo Yu "Murti" ing tengahing Kutho Tokyo sing lagi sinau. Ojo terlalu sregep, mundak dadi "stres"!

“Nomikai” adalah masa-masa sulit

September 6th, 2006 by roniwaejp

Jangan dibayangkan masa sulit itu sebagai masa ketika tidak punya uang, atau masa ketika  menghadapi ujian, atau masa ketika  putus dengan pacar. Masa sulit di sini hanyalah masa ketika saya berada pada tempat yang salah, masa ketika aku berada di tengah-tengah teman yang semuanya sedang minum bir dan mabuk atau sering disebut "nomikai". Teman-teman muslim sesama "kampung" yang sedang berada di Jepang pasti pernah merasakan suasana seperti ini. Disana sering muncul pertanyaan kenapa tidak minum bir? kenapa tidak boleh minum bir, dan pertanyaan sejenis lainnya, yang seolah-olah mengintrogasi kita. Kasus ini sama persis ketika kita makan bersama: kenapa tidak makan daging babi? kenapa tidak boleh makan daging babi? dan sebagainya.
P1010328aPada kondisi seperti ini kita sulit untuk menjelaskan. Tetapi mau tidak mau kita harus berhadapan dengan kondisi ini jika ingin hubungan kita tetap baik dengan teman-teman Jepang bahkan dengan sensei. Mungkin ada pembaca yang sudah punya strategi untuk menjawabnya. Di sini saya mencoba menuliskan strategi yang selalu saya gunakan ketika menghadapi kondisi tersebut.
Di mata orang Jepang secara umum, Islam itu sama dengan agama-agama yang lain. Jadi menurut saya menjelaskan tentang agama harus sejajar dengan penjelasan pada agama lain. Runtutan logikanya juga harus sama. Yang paling awal (ketika datang di Jepang) tunjukkan bahwa kita moslem. Teman-teman Jepang, setidaknya sekitar dunia kampus, sedikit banyak ada yang tahu ketika berhadapan dengan seorang moslem. Beberapa kali juga saya diajak makan dan minum oleh keluarga yang sama sekali tidak tahu tentang dunia muslim. Di situ saya mau tidak mau harus menjelaskan kenapa tidak boleh makan babi atau minum bir (sake). Saya katakan dengan sederhana bahwa di kitab suci agama saya melarang dua hal itu. Tapi sering terjadi pula kita dikejar oleh pertanyaan: Si A yang dari Indonesia itu juga muslim tapi kok minum sake? Pada pertanyaan ini yang saya rasakan seolah-olah mematahkan jawaban saya tadi, atau bahkan lebih cenderung menyalahkan jawaban saya tadi, atau lebih lanjut menyalahkan kitab suci yang kita yakini. Di sini prinsip keumuman bahwa Islam sama dengan agama-agama yang lain bisa menjelaskan lebih lanjut. Kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa orang Indonesia yang minum sake tadi adalah totol, bersalah, berdosa, akan masuk neraka, dan lain-lain atau kata-kata yang sejajar dengan itu. Kata-kata seperti itu kalau kita ungkapkan sama dengan "mengatai" teman-teman lain yang sedang minum sake dalam forum itu. Dalam hal ini kita harus hati-hati. Dalam forum inipun kita harus menghindari sikap bahwa agama yang kita anut adalah yang paling benar. Sikap ini hanya akan membuat kita mati konyol. Forum tidak memungkinkan kita untuk meyakinkan hal itu. Cara yang menurut saya paling bisa diterima adalah menjelaskan bahwa agama Islam itu sama dengan agama yang lain. Yang namanya agama selalu menuntut umatnya untuk melakukan aturan yang ada di kitabnya secara 100% bukan. Bisa juga ditambahkan bagaimanapun agama itu soal yang amat pribadi. Artinya, apakah seseorang itu mematuhi aturan yang ada dalam agamanya hanyalah persoalan individu yang bersangkutan. Ada si B yang hanya mematuhi 50% ada si C yang mematuhi 80% dari ajaran agamanya, dan seterusnya. Jadi, disini kita mengarahkan pemikiran teman-teman Jepang dalam forum "minum" itu untuk tidak menyalahkan kitab suci kita. Melainkan lebih menyalahkan pada si A yang tidak mematuhi aturan dalam agamanya. Dan dibalik itu, secara tersirat kita juga tidak menyalahkan teman-teman Jepang yang sedang menikmati forum "kenikmatan" itu. Dengan begitu kita dapat meyakinkan pada mereka bahwa keberadaan kita pada forum tersebut yang tidak mau minum sake hanyalah usaha untuk mematuhi ajaran yang ada dalam agama kita sendiri. Pemikiran mereka bisa diperkuat dengan mengatakan bahwa tindakan kita yang tidak minum bir atau makan babi itu sama dengan umat hindu yang tidak makan daging sapi, atau orang Jepang yang tidak makan daging burung dara.
Kalau kita berhadapan dengan orang Jepang yang sudah tahu tentang Islam, kita bisa memperkuat dengan analogi bahwa kalau ada orang Jepang yang menyuruh kita untuk minum atau makan daging babi, itu sama dengan menyuruh kita untuk mencuri. Kebetulan mencuri itu tindakan yang dilarang secara universal jadi bisa mereka terima.
Ketika kita sudah masuk di forum "minum" tersebut sering juga kita ditodong untuk minum sake dengan cara akan menuangkan dalam gelas kita. Pada saat itu katakan dengan jelas bahwa saya minta maaf karena tidak minum sake "sumimasen, biiru o nomimasenga", atau kalimat yang sejenis dengan itu. Kalau dipaksa katakan sekali lagi dengan minta maaf "sumimasen", kalau perlu beberapa kali. Dengan begitu biasanya dia akan mengurungkan niatnya. Bukankah ada ungkapan Jawa yang mengatakan "orang itu kalau dipangku akan diam". Sama dengan proses ini, ketika meminta maaf seolah-olah kita memosisikan diri kita pada pihak yang bersalah dan sebaliknya dia pada pihak yang benar. Dengan tindakan ini berarti kita juga menggunakan proses memangku lawan bicara kita. Tindakan ini bisa diperkuat dengan sebaliknya kita menerima botol bir tersebut dan menuangkannya di gelas dia.  Saya tidak menganggap bahwa tindakan saya ini benar. Tapi tindakan ini saya lakukan dengan meniru cara teman-teman Jepang ketika menolak diberi minum dan hasilnya mujarab he he he.

“Jinseitte konna mon desu ne”

September 6th, 2006 by roniwaejp

Mungkin pengalaman saya ini dialami juga oleh teman-teman "sekampung" yang pernah ikut nomikai? Berkali-kali saya menemani teman-teman untuk "minum". Setelah mereka sampai pada puncak yang namanya "minum", beberapa kali saya dengar kalimat yang sama atau artinya setidaknya mirip dengan kalimat berikut: "jinseitte konna mon desu ne", yang artinya "kehidupan itu seperti ini ya" atau yang lebih ekstrim (tentunya melihat situasi pembicaraan pada waktu itu) "kehidupan itu (yang paling indah, nikmat, dll) ya hanya seperti ini". "Ini" yang dimaksud dalam pembicaraan di sini tentunya adalah minum, minum, dan minum sampai mabuk. Di sini tersirat bahwa yang paling nikmat ketika hidup adalah minum dan mabuk.
Saya teringat ketika masih berada di kampung ada tetangga yang namanya Kang Keyek, orang-orang menyebutnya "dewa mabuk" karena sukanya mabuk-mabukan. Hampir tiap minggu dapat dipastikan dia pulang sambil mabuk dan tentunya disertai dengan "ngoceh". Dalam ocehannya dapat diketahui bahwa kenikmatan hidup yang dia rasakan hanyalah ketika mabuk. Walaupun demikian Kang Keyek menurutku "orang baik". Dia tidak pernah "nakal" ketika mabuk. Dia tidak pernah mencuri untuk tujuan membeli minum. Dia seorang pekerja keras. Ketika diingatkan oleh Mak De Jo bahwa jika tidak mabuk kamu pasti dapat kaya,  jawabnya adalah: "Yo ben, wong duwit-duwitku dhewe, aku ora nyolong".
Saya menyamakan dua kasus yang berbeda ini sebagai hal yang wajar. Wajarnya itu terletak pada tujuan duniawinya (badaniyahnya). Karena kenikmatan "konkrit" yang mereka dapatkan ya hanya dari "minum" itu. Tapi repotnya, menurut saya penganut ini berhadapan langsung dengan fatalisme. Ketika mereka menganggap kenikmatan hidup hanya seperti itu (minum), dan mulai membosaninya, ketika ada permasalahan sedikit yang melilit dan disertai dengan "kelupaan sesaat" dapat berakibat fatal. Fatalnya terletak pada anggapan bahwa hidup itu tidak mempunyai arti (hidup dan mati itu sama saja), yang berakibat lebih baik hidup ini di akhiri (bunuh diri). Hal ini juga dialami teman Kang Keyek. Yah……Kang Diran itu bunuh diri mungkin mengikuti alur pemikiran ini. Mungkin alur ini juga salah satu faktor yang menyebabkan Jepang sebagai negara yang prosentase kasus bunuh dirinya terbesar di dunia.

“Space” itu perlu?

July 26th, 2006 by roniwaejp

Space atau ruang disini diberi arti yang cukup longgar, baik berarti dimensi ruang, waktu, atau kelebihan  "materi".  Ternyata  adanya space itu memberi "ketentraman" tersendiri. Coba buktikan sendiri. Ketika kita akan  kuliah, menghadiri meeting, atau bahkan undangan pesta perkawinan kita berusaha untuk datang beberapa waktu sebelum dimulainya acara. Dengan datang lebih awal sedikit berarti kita telah menyisakan space untuk "bernapas". Dan ternyata dengan dapat bernapas barang sejenak ini memberi ketentraman tersendiri, minimal kita terhindar dari "cemoohan mata" sekitar kita yang memang menuntut kita datang tepat waktu, atau setidaknya secara nurani kita terhindar dari "rasa berdosa" terhadap diri sendiri, merasa bersalah jika terlambat. Lain lagi kalau kita merasa bangga jika terlambat. Kalau ini sih penyakitnya penggede kita atau kita yang suatu saat sok jadi orang gede, orang penting.
Tes_1Ketentraman dengan adanya space juga bisa kita rasakan pada adanya ruang. Tanpa adanya ruang sudah pasti kita bisa mati. Ada NGO Amerika yang menawarkan rumusan "segitiga dimensi" untuk menghindari runtuhan gedung ketiga terjadi gempa. Ruang yang ditawarkan itu bukan di bawah tempat tidur atau meja, melainkan disamping tempat tidur itu sendiri. Konon ketika runtuh dan menimpa benda-benda "kuat" itu, yang terdapat space justru di samping benda itu, bukan dibawahnya. Lebih ekstrim lagi bisa dibayangkan jika kita berada di dalam sumur, dada terasa sesak karena seakan tanah di samping menekan kita. Dengan hal itu pula dapat dipahami jika kita punya rumah berharap ada sedikit halaman, ya setidaknya bisa untuk "bernapas" dengan longgar.
Ketentraman juga bisa kita dapat dari adanya space materi. Bisa kita bayangkan jika kita disuruh ke Jakarta dengan seorang anak kita dan hanya diberi uang transport saja. Pasti kita ragu untuk menerimanya. La iyo. Apa kita ndak butuh minum ketika haus, ndak butuh makan ketika lapar. Itu sih belum seberapa. Ketika anak kita minta balon, atau mainan murah lain yang pasti tiap orang bisa membelikannya, apa kita tega? Lebih jauh lagi, dari pengalaman yang saya lihat, terlepas dari kejadian itu entah kebetulan atau tidak, apakah space materi bisa juga memanjangkan umur ya? Yah, tentu saja kita ini makhluk Alloh yang tentunya tidak dapat meminta perpanjangan jatuh tempo umur kita, dan materi tidak bakalan dibawa mati. Tapi manusia toh tetap manusia, ada sifat-sifat manusiawi yang pasti dimiliki oleh manusia pada umumnya. Beberapa kejadian di desa mbah-mbah yang membagikan kekayaan kepada anaknya sebelum meninggal, justru setelah membagikannya selang beberapa waktu mbah itu meninggal. Ha ha ha apa ini semacam bukti bahwa space materi itu juga bisa memperpanjang umur? ….. Yah setidaknya adanya space materi mungkin bisa menenteramkan hati si embah itu, dan membuatnya kerasan untuk tidak buru-buru "meninggalkan" dunia fana ini he he he.
Mari kita beri sedikit kelebihan space pada kehidupan kita. Datang lebih awal ketika kuliah, sisakan space untuk kita menanam bunga atau menggantung sangkar burung agar kena matahari, dan jangan lupa bawa uang lebih jika kita pergi ke Jakarta atau Surabaya
.

Wong muji awake dhewe iku ndak sopan?

May 11th, 2006 by roniwaejp

Mungkin banyak di antara kita yang ketika melihat orang
yang menyombongkan diri (dalam arti sempit muji awake dhewe) merasa jijik, kok koyo iso-iso o dhewe, wong bangga karo
awake dhewe kok berlebihan, dan sebagainya. Terus meneh, kita memandangnya aneh,
tapi kadang kita ndak bisa ngapa-ngapain. Kalau yang dia sombongkan ndak sesuai
kenyataan paling kita nggrundel, kalau berani ya “nyekag”, kalau tidak ya minimal
protes dalam hati ha ha ha. Ning iki bener. P1000865Lha kepriye……. wong apa yang dia katakan
itu memang bener apa adanya. Tapi kok tetap terasa aneh ya. Iya…… anehnya itu terletak
pada pelanggarannya terhadap kaidah kesopanan (sopan santun). Dalam pragmatik ada
maksim yang mengatakan bahwa: kecamlah orang
lain sedikit mungkin, pujilah orang lain sebanyak mungkin; dan sebaliknya pujilah
diri sendiri sedikit mungkin, kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Kalau
orang mematuhi maksim ini akan terasa wajar dan sopan. Sebaliknya yen ora dipatuhi terasa
ndak sopan. Jadi kalau seseorang telah melanggar maksim ini, terasa aneh, apane
yo sing ora pas kuwi…….. ya lebih jauh terasa tidak sopan. Lha kepriye diri sendiri
kok dipuji sundul langit weleh weleh weleh.

Nebah Dodo lan Sumeleh

March 22nd, 2006 by roniwaejp

Dsc00046_4_1Dalam hidup kita pasti sudah pernah mengalami "kegagalan", kenyataan tidak sesuai harapan, entah seberapa besar kadar kegagalan itu tiap orang berbeda-beda. Mulai dari kegagalan berkencan, ujian, sampai rumah tangga. Dan sering pula mengatasnamakan kegagalan itu dengan mengambing-hitamkan hal-hal di luar diri sendiri, entah orang lain, alat atau medianya, bahkan menyalahkan sing nggae urip…. manusiawi kok. Toh kalau memang benar penyebabnya hal-hal di luar diri sendiri (mungkin orang lain) ada kecenderungan "membesar-besarkan" penyebab itu. Kelihatannya rumusan di atas kertas "ok", tapi kenapa kok ndak sesuai dengan yang diharapkan. Jangan-jangan rumusannya yang ruwet serta mbulet, atau jangan-jangan kita yang nggak bisa memahami rumusan itu. Ada kalanya mungkin memang kita yang nggak bisa memahami hamparan rumusan yang ada di depan mata. Kadang memang wajar. La mau bagaimana…wong yang mbuat rumusan itu sing nggawe urip he he he. Terus arep dikapakke. Apa kita bisa memaknai rumusan yang dibuat oleh sing nggawe urip…..di situ permasalahannya. Seandainya "kesuksesan" itu buat kita bagus belum tentu bagi sing nggawe urip bagus, demikian pula sebaliknya (ya dibolak balik biar ndak gosong lah). (Ada seorang teman dari salah satu pesantren di Jombang yang memberi saran kalau berdoa dengan konsep begini: "Ya Alloh berilah yang terbaik bagimu". Awalnya aku seringkali ndak berani berdoa seperti itu, takut… takut sekali) Kalau sudah demikian betapa pentingnya untuk cepat "nebah dodo" dan "semeleh", menerima dan legowo. Ini bukan berarti "kalah" lo. Tujuannya biar hati ini ndak "ngos-ngosan", biar emosi ini ndak ngalor-ngidul ngumbro woro… sambil instropeksi diri mencari apa yang kurang… untuk seterusnya mengontruksi strategi mendatang. Yang menjadi persoalan berikutnya adalah bisakah kita cepat nebah dodo dan semeleh. Kalau menerima kegagalan seperti ini saja ndak bisa, berarti apa bisa menerima takdiring pengeran. Padahal kalau itu takdiring pengeran, mau tidak mau harus diterima. Emangnya mau dicap ndak bisa menerima takdir? Dasare menungso.

Bangga opo Sombong

March 3rd, 2006 by roniwaejp

Ketika seorang ibu menceritakan tentang anaknya yang baru berumur dua tahun tapi sudah bisa menyanyi kepada ibunya ibu itu (ngomong wae lek mbah wedok…ngono lak enak…ne-nek Dul!!!). Maka nenek itu bangga akan keponakannya (seriuse rek), demikian juga dengan bu denya yang ada di Sulawesi Selatan, sangat bangga akan "prestasi" yang diraih oleh cucunya. Juga kakeknya, pak liknya, buliknya, buyutnya, saudaranya Ibu, saudaranya  bapak, bahkan teman-teman si ibu tersebut……. stop!!!  lak kabeh  lakan. Ngawur wae! Durung mesthi Je. Hayo cobo crito o nyang Bu Cikrak kae sing anakke wis umur limang tahun ning durung iso nyanyi. Kok nyanyi….nyeluk jenenge bapake wae durung genah kok. La terus. Kok la terus………… yo cerita ibu tadi mestinya dianggap sombong karo Bu Cikrak, dianggap menyombongkan dirilah. La kok Bu Cikrak sing wong liyo broyo, kadang crito nyang dulur dhewe wae dianggep sombong kok (iyo… iku mergo kowe ora rukun karo dulurmu). Tapi Je…masiho wong liyo broyo ning lek sesambungane apik, kekoncoane apik……..mesthine koncomu iku yo melok bangga to. La terus sing mbedakne sombong karo bangga ki opo Dul. Embuh!!! Mestine lek crito ki yo angon wayah lan angon enggon (boso Inggrise: tahu sikonlah, sing pernah blajar sosiolinguistik mestine wis "mudheng"). Ada continuum orang "dekat" dan orang "jauh". Tambah gak ngerti aku Dul!! La bagaimana to walaupun saudara tapi kalau terasa seperti bukan saudara berarti kan orang jauh to. Sebaliknya walaupun orang lain (dudu sanak dudu kadang….iku jarene simbah) kalau terasa seperti saudara berarti kan orang dekat to Dul (oh ngono). Maksude, continuum orang dekat dan orang jauh itu ikut menentukan kadar kebanggaan atau malah sebaliknya kadar kesombongan suatu pembicaraan. Iku beke lo yo. Mulo iku hubungan kekoncoan iku perlu dijogo, kareben yen crito iku ora dianggep sombong. Lan meneh yen wong liyo iku bangga karo kowe, malah dadi dongo (doa Dul!!) apik gen kowe luwih berhasil kok. Sebalike yen wong-wong merasa kowe iku sombong…..malah dadi dongo sing elek. Terus yen kowe gagal bakal disoraki. Tapi ugo yen nduwe kebanggaan iku (maksudmu kepinteran to Dul….yo ora mung iku thok) yo diusahakan disertai dengan kedewasaan emosi, cik klop ngono lah. La wong ruange kepinteran karo ruange emosi iku lak seje….seje enggon (la ruang spirituale nok endi Dul….pikiren dhewe!!!), mulo kepriye amrihe mlaku sejajar. Lak ngono to. Lek sejajar iku sing nyawang, sing ngrasakno, kan enak. Beke ngono lo Dul. Iku beke……jenenge ae lagi crewet.